Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Saturday, March 18, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Terakhir

Sebuah Nama Tanpa Cerita


Thursday, March 16, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Lima Belas

Sebuah Nama Tanpa Cerita
Rezza selalu ada saat aku membutuhkannya, dia selalu menjadi orang yang  mengukit tawa di bibirku. Menjadi orang yang mengembalikan senyumku yang dulu sebelum aku mengenal dirga.

Meskipun aku terus saja dimanjakan oleh perhatian dan kasih sayangnya tapi belum pernah sekalipun dia mengucapkan sayang padaku, atau menggenggam tanganku, atau mencium ku padahal aku sangat mengharapkannya.
Mungkin keputusannya untuk mendekatiku perlahan karna takut kalau luka yang dirga berikan padaku akan menyakitiku kembali saat rezza mengungkapkan perasaannya. Tapi dia tidak tau , bahwa aku lah yang sangat mengharapkannya..

Entah ini sebuah pelarian perasaan atau aku benar – benar mulai menyukainya, tapi saat berada didekatnya  aku merasa nyaman, saat berada didekatnya aku menjadi diriku apa adanya.

Jadi kuputuskan menunggunya, sampai aku dan dia benar – benar siap menjalani hubungan yang baru tanpa bayang-bayang siapapun.

Kali ini rezza kembali mengantarku pulang bekerja dari Coffe Table, ya karna memang kami bekerja ditempat yang sama.

“ kamu gak mau pulang kerumah kamu?” tanya rezza,  kami cukup santai membaha hal – hal yang cukup privasi diantara kami sekarang sejak kejadian di pantai tempo hari

“ mau, tapi aku bingung gimana cara memulainya. Rasanya malu kalau aku tiba – tiba pulang kerumah. Apalagi sebentar lagi aku lulus, malah dikira aku gak mampu membiayai hidupa ku sendiri” ucapku

“ trus mau sampai kapan begini ?” tanyanya

“ gak tau” ucapku santai

“ kasihan mamah kamu, mungkin  setiap hari selalu mikirin kamu” ucap rezza “ kapan terakhir kali ketemu ?” tanya nya lagi

“ sejak aku keluar dari rumah, aku gak pernah ketemu mamah” jawabku , ada perasaan bersalah yang menyeruak di dadaku

“ sebaiknya kamu ketemu dulu deh. Pasti mamah kamu ngajak kamu pulang, dan disitu mungkin kamu bisa pulang tanpa harus mempertaruhkan ego kamu yang berharga itu” ucap rezza sedikit menyindir

“ ya, nanti aku coba fikirin” ucapku menyudahi pembicaraan karna kami sudah sampai didepan kosanku.

“ oke, selamat istirahat ya” ucap rezza sambil melambaikan tangannya

“ sama –sama. Hati – hati dijalan” ucapku , sambil melambaikan tangan menatap rezza yang berlalu pergi

***
“ dit keluar yuk” ucap rezza tiba-tiba menelfonku

“keluar kemana mas ?” tanyaku malas, aku baru saja sampai dirumah setelah seharian bekerja merapihkan berkas- berkas lama bagian GA

“ kamu lagi mau kemana ?” tanya rezza bersemangat

“ MAU TIDUUURRR, CAPEKKK!” Teriakku

“ ihh, jangan gitu dong. Yaudah makan aja deh, kamu belum makan kan?” tanya rezza lagi

“ belum” jawabku singkat

“ oke setengah jam lagi aku kesitu ya, kamu siap – siap aja” ucap rezza mematikan telfonnya

Hulft, sifat menyebalkan rezza memang tidak serta merta menghilang begitu saja meskipun akhir-akhir ini dia seperti malaikat penolongku. Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku agar terlihat sedikit lebih segar. Dan duduk didepan lemari memilih pakaian mana yang akan ku pakai.
.
.
.
10 menit berlalu....
.
.
.
Rasanya baru kali ini aku bingung memilih pakaian untuk diriku sendiri. Padahal selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan memakai baju apa.

Sebelum aku sempat menemukan baju yang sesuai, rezza sudah kembali menelfonku sepertinya dia sudah berada didepan kosanku. Akhirnya aku mengambil dress selutut yang sudah lama tak pernah kupakai.

Setelah memoles mukaku sedikit, aku berlari keluar menghampiri rezza. Rezza sudah berdiri bersandar di mobil putihnya yang besar, sambil memainkan handphonya dan tersenyum – senyum geli. Saat aku menghampirinya, dia masih saja asyik bermain dengan handphonenya.

“ DOOR” teriakku mengagetkannya yang tidak menyadari keberadaanku

“ ihhh.. lama banget . buruan naik” ucap rezza, aku berlari ke arah berlawanan dan masuk ke mobilnya yang nyaman

“ tumben ngajak keluar tiba-tiba. Ada apaan nih ?” tanyaku

“ aku lagi seneng, dan mau berbagi kebahagiaan buat kamu. Mau makan apa nih kita ?” tanya rezza

“ apa yah, aku juga bingung. Nasi goreng ?” tanyaku

“ kali ini kita makan direstoran mahal .” ucap rezza

“ alah, nanti ujungnya diajak ke tukang pecel lele” ucapku sambil tersenyum meliriknya. Dia mengelus rambutku perlahan.

Kami tertawa besama, “ serius kali ini kita makan makanan enak dan mahal” ucap rezza.  Sepanjang perjalanan rezza terus saja tersenyum dan bercerita tentang banyak hal konyol yang membuatku tertawa terpingkal. Apapun yang membuat rezza bahagia hari ini, aku pun ikut merasakan energi kebahagiaannya. Dan aku bahagia berada disampingnya.

Kami berhenti disebuah restoran mewah, untung saja aku memutuskan menggunakan dress ini, kalau saja aku menggunakan jeans bututku dan kemeja seperti biasanya, mungkin aku sudah berlari keluar sebelum sempat menginjakkan kaki kedalam. Hari ini rezza pun sedikit berbeda dari biasanya.

“ potong rambut ?” tanyaku pada rezza yang tampil beda hari ini, rambut gondrongnya dipangkas habis menjadi potongan tentara. Kacamatanya entah ditanggalkan kemana sehingga aku bisa melihat matanya yang berwarna coklat muda dengan jelas. Tapi jengkot didagunya tetap dibiarkannya memenuhi wajahnya, hanya dipangkas tipis.  Sungguh hari ini rezza membuat jantungku berdetak saat aku melihatnya jelas didepan mataku

“ iya, mau ganti suasana aja. Kemaren lagi suntuk, kayanya penampilan ikut suntuk” ucap rezza

seorang pelayan datang pada kami membawa buku menu yang cukup besar, kali ini kuserahkan pada rezza urusan makanan untuk naga diperutku.

“ kamu lagi bahagia banget kayanya “ tanyaku

“ iya dong, BAHAGIAAAAAA BANGET “ Ucapnya sambil memegang tanganku “ aku mau ngomong sesuatu tapi abis kita makan”

“ ngomong apaan sih ?” tanyaku penasaran

“ NANTI HABIS KITA MAKAN”

Entah apa yang akan dikatakan rezza padaku, tapi apapun itu aku bahagia melihat rezza seperti ini. Senyumnya menularkan kebagaiaan padaku. Aku tidak  menyegerakan makanku, malah memperlambatnya membiarkan diriku menatap rezza yang baru lebih lama. Entah, mengapa selama ini dia menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya dengan tampilan yang urakan.

Rezza hampir menghabiskan makanan penutupnya, sedangkan aku sudah tidak sanggup lagi menampung seluruh makanan ini.

“ jadi apa yang mau kamu omongin ?” tanyaku pada rezza

“ tunggu, tunggu ini bagian yang paling aku suka” ucap rezza sambil menyendok coklat dan lelehan keju kedalam mulutnya

Aku menunggunya sampai menyelesaikan bagian yang katanya dia suka.

“ oke “ ucap rezza sambil mengelap mulutnya dengan serbet

“ aku mau bilang sesuatu ke kamu tapi dengan syarat, satu kamu gak boleh kaget, 2 kamu gak boleh nolak, 3 apapun yang terjadi kita harus tetap begini, maksud aku jangan ada yang berubah” ucap rezza

Aku terdiam, apa rezza ingin mengungkapkan perasaannya padaku ? fikirku dalam hati.
Apa mungkin rezza juga memiliki perasaan yang sama sepertiku ?
Apa mungkin rezza sudah siap menjalani hubungan denganku tanpa bayang-bayang  siapapun ?
Tapi apa aku siap ?
apa ini cinta ? tanyaku pada diri sendiri. Bahkan sebelum rezza menanyakannya padaku.

“ dit, aku mau jujur sama kamu tentang satu hal” ucap rezza

Tiba – tiba handphone rezza berbunyi,

“ ish apalagi sih,” ucap rezza menggerutu kesal, diambilnya handphone yang sejak tadi ditaruh di sisi kanannya.

“ sebentar ya “ ucap rezza beranjak pergi menjauh dari meja tempat kami duduk.

Aku masih saja memegangi dadaku, takut kalau jangtungku copot menerima semua ini. Takut kalau aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaanku sendiri pada rezza.

Tak lama rezza kembali dengan raut wajah yang sedikit bingung.

“ dit, aku ada urusan mendadak . kamu pulang sendiri gak apa-apa ?” tanya rezza

“ Emang ada apa ?” tanyaku khawatir

“ nanti aku ceritain semuanya, termasuk tentang yang mau aku bilang ke kamu hari ini. Oke !” ucap rezza  “ maaf ya, kamu hati – hati dijalan”

Rezza, sempat menaruh uang di nampan bill kami termasuk uang tips untuk pelayananya. Dan aku beranjak keluar dengan perasaan kecewa karna rezza gagal mengungkapkan perasaannya hari ini.

***

“ hallo “ ucapku

“ ya kenapa de “ ucap kakaku

“ ada dimana kak ? aku mau ketemu” tanyaku

“ dikantor, yaudah nanti pulang kerja kakak ke kosan kamu ya” ucap kak melinda

“ gak usah, ketemuan diluar aja” ucapku
                                                             
“ oke, nanti pulang kerja kakak kabarin lagi. mungkin sekitar jam 7’an bisa ?” tanyanya

“ oke” ucapku , kemudian memutuskan panggilan telfon

Sejak jam 6 tadi sebenarnya pekerjaanku sudah selesai, mas eko dan staff GA lainnya bahkan sudah pulang 30 menit yang lalu. Tapi aku masih duduk dimejaku sambil membaca beberapa artikel diinternet, sambil menunggu kak melinda menelfon.

From : Melinda
Aku keluar kantor nih, mau ketemuan dimana ?

Akhirnya dia mengabariku juga,
To : Melinda

Caffe dideket kosanku aja gimana, di lampu merah
Namanya S& R  cafe

 Tak lama sms balasan kembali masuk,
From : Melinda
OKE

Hulf, kakakku memang selalu seperti ini. Saat bertemu selalu saja berhasil membuatku menutup telinga, tapi bahasanya di telfon malah terlalu singkat.

Jam 7;20 aku sampai di S&R cafe, kak melinda ternyata sudah sampai disini terlebih dahulu. Dia tengah asik memainkan handphonnya saat aku datang.

“ udah lama kak ?” tanyaku

“ enggak kok, belum terlalu lama” ucapnya, kemudian dia menyimpan handphonenya kedalam tas

“ ada apa ?” tanya kak melinda penasaran

“ aku kangen mamah kak” ucapku sedikit ragu

Kak melinda tersentak, mungkin kaget aku berkata seperti itu. Selama ini dialah yang selalu membujukku pulang dan bertemu mamah.

“ pulang aja yuk, lagian aku mau nikah 3 minggu lagi. aku mau adik aku yang paling cantik ini hadir disana dan menyaksikan kakaknya menempuh hidup baru bersama orang yang dicintai” ucap kak melinda

“ loh, kok dadakan kak?” tanyaku “ bukannya kemarin katanya baru putus. Udah dapet yang baru langsung nikah gitu ?” tanyaku kaget

“ bukan dadakan. Kakak udah lama hubungan sama dia, bahkan sebelum kamu pergi dari rumah. Cuma memang baru dikenalin ke mamah dan papah satu tahun terakhir. Kita emang sempet ribut kemarin, padahal semua persiapan pernikahan udah didepan mata. Tapi ya begitulah kata orang, kalau mau nikah ada aja cobaannya”

“ oh, selamat ya kak” ucapku memeluknya “ aku ikut bahagia”

“ kamu mau kan pulang kerumah, mungkin setelah aku nikah nanti, aku akan ikut suami de. Kasian mamah dirumah sendirian, papah sering pulang malem , mamah juga kefikiran kamu terus, jangan sampai mamah sakit baru kamu mau pulang. Nyesel kamu nanti” Ucap kak melinda

“ iya kak, kalau begitu kak bisa tanya mamah sama papah apa aku boleh pulang ?” tanyaku

“ boleh de, itu rumah kamu dan selamanya menjadi rumah kamu. Kapanpun kamu mau dateng, pintu rumah selalu terbuka lebar” ucap kak melinda, memelukku , isakan tangisnya terdengar meskipun samar.

“ pulang de, kami semua kangen sama kamu” ucap kak melinda

“ iya aku pulang kak” ucapku menepuk bahu kak melinda.


Saat ini aku ingin sekali menghubungi rezza dan menceritakan keputusanku ini, tapi rezza mengabariku kalau dia harus ke luar kota beberapa hari untuk urusan keluarga. Dia mengabariku satu jam setelah aku meninggalkan restoran, semoga saja tidak terjadi hal – hal buruk yang tidak diinginkan. Karna dari kekhawatiran dan ketergesa-gesaannya, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.



***
BERSAMBUNG

Tuesday, March 14, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Empat Belas


Sebuah Nama Tanpa Cerita
Sejak tadi alarmku berbunyi, sebelum aku membuka mata tapi rasanya enggan beranjak mematikannya. Meskipun berisik tapi tidak seberisik fikiran – fikiran yang terus menggulir dikepalaku, tentang dirga.

Rasanya semalam seperti sebuah mimpi buruk, tapi kalaupun iya kenapa air mata ini tak bisa berhenti mengalir meskipun jutaan kali aku yakinkan kalau aku sedang bermimpi.

Kenapa dia memberiku kesempatan dan perlakuan yang manis kalau akhirnya aku harus dicampakkannya juga,

Kenapa dia harus mengulurkan tangannya dan membawaku dalam kehidupannya sementara dia tau bahwa aku tak pernah pantas mendampinginya,

Kenapa dia membiarkan aku terlalu lama dalam kebodohan ini ?

Kenapa ?


Tok... tok... tok..
Seseorang mengetuk pintuku,
“ masuk “ teriakku, itu mungkin dian aku segera menyeka air mataku

“ gak kerja ?” tanya dian

“ enggak kayanya gue gak enak badan. Kecapean kali ya” ucapku

“ abis nangis ?” tanya dian

“ enggak, ini flu, jadi idung meler, mata panas” ucapku mencari alasan. Dian menaruh tangannya di dahiku

“ enggak panas tapi” ucapnya

“ emang gak demam, Cuma capek sama flu” ucapku “ ada apa ?” tanyaku

“ sebenernya gue mau cerita sesuatu tapi lo lagi sakit, lain kali aja” ucap dian

“ gak apa – apa cerita aja. Belum tentu gue ada waktu lain kali” aku mencoba meyakinkannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata-kata dirga semalam

“ sebelumnya gue minta maaf sama lo. Mungkin akhir – akhir ini lo liat gue akrab sama dirga. Gue tau lo risih dan curiga maaf ya” ucap dian

“ iya gak apa-apa. Gue percaya sama lo kok, lo gak mungkin ngehianatin gue” ucapku

“ lo jangan kaget ya. Gue punya temen, dia anak orang kaya dan satu kampus sama gue dia cerita kalau dia punya pacar namanya bayu” ucap dian

“ loh kok jauh banget jadinya melencengnya” tanyaku heran

“ dengerin dulu” ucap dian

“ iya, namanya temen kadang curhat ya. Sampe satu hari dia ngasih tau foto cowonya itu, dan gue liat itu Dirga” ucap dian

“ trus “ tanyaku

“ lo gak kaget ? “ tanya dian

“ terusin dulu ceritanya baru gue kaget” ucapku

“ Ya gue cari tau lah kebenarannya, ternyata bener itu dirga namanya BAYU DIRGANTARA. Mungkin dia dipanggil bayu sama kawan gue dan dipanggil dirga sama lo. Tapi mereka adalah orang yang sama. Pas gue tanya – tanya sejak kapan dia pacaran katanya udah lama, hampir 1 tahun berartikan duluan dia daripada elo” ucap dian

“ iya gue mungkin jadi perusak hubungan orang” ucapku

“ kok lo gak kaget sih?” tanya dian

“ terusin ceritanya “ ucapku

“ dan katanya, mereka mau tunangan bulan ini karna kan emang kawan gue itu udah lulus, tinggal wisuda. Orang tua mereka rekan bisnis gitu, jadi ya gitu deh mungkin biar bisa ngebesarin usahanya atau apa” ucap dian

“ lo kan sama – sama di posisi temennya cewek itu dan gue. Menurut lo gue jahat gak ?” tanyaku pada dian

“ enggaklah, lo korban. Lo juga gak tau kan kalau dirga punya cewek. Gue juga gak tau makanya gue berusaha deketin dia buat mastiin kebenarannya maksa dia jujur tapi malah gue ditembak !” ucap dian bingung

Aku tertawa terbahak – bahak mendengar cerita dian.

“ kok lo ketawa sih, kenapa ? lo gak sedih ? lo stress ya denger beginian ?” tanya dian

“ enggak.. enggak” ucapku menyeka air mataku “ semalem gue ketemu dirga sama cewe, mungkin itu temen lo. Awalnya gue fikir gue mungkin gak dipilih karna gue gak lebih cantik, gak lebih kaya, atau apalah . gue sedih bahkan hampir mati kenapa gue begini, kenapa bukan gue yang dipilih. Tapi setelah ngedenger cerita lo, gue bersyukur putus sama dia”

“ jadi lo udah putus ?” tanya dian

“ udahlah, masa mau lanjutin setelah gue liat dia semalem berduaan sama cewek lain”

“ kenapa sekarang bersyukur ?” tanya dian

“ udah hubungan satu tahun sama ceweknya sekarang aja bisa ngedeketin gue bilang sayang. Sekarang udah mau tunangan, abis mutusin gue, bilang sayang sama cewek model kaya lo. Dia itu buta atau emang hobi mainin semua jenis cewek sih. Termasuk cewek jadi – jadian kaya lo” ucapku sambil terbahak

“ eh sialaaannn loo, gue emang jelek. Tapi cewek beneran. KURANG AJAR” ucapnya tapi dian memelukku

“ gue bersyukur putus sama dia, entah gimana kalau mimpi gue buat nikah sama dia terwujud. Diselingkuhin terus kali hidupnya ya” ucapku

“ iya gue bersyukur juga” ucap dian

“ tapi gue kasian sama ceweknya yang sekarang, semoga dia termasuk orang yang kuat ya” ucapku

“ amient.” Ucap dian

“ yaudah minggir, gue mau mandi” ucapku

“ lah mau kemana ?” tanya dian

“ mau kerja. Gak pantes hidup gue yang berharga disia –siain cuma buat meratapi kesedihan hanya karna playboy cap bangke tikus” ucapku meninggalkan dian yang masih duduk dikasurku

Kejujuran memang lebih baik daripada kebohongan yang manis sekalipun. Aku berusaha menguatkan diriku, dengan sisa sisa harapan yang aku miliki. Kalau saja Dirga tak pernah memberikanku perlakuan yang sama, putus darinya tidak akan terlalu begitu menyakitkan untukku. Apa dia tidak pernah berfikir bahwa usahanya untuk membuatku sebanding dengan tunangannya itu akan semakin membuatku sakit saat aku dibuang nanti ?.

Entah apa yang ada difikiran dirga saat itu, saat pertama kali dia menyatakan cintanya padaku. Mungkin jenuh dengan pasangannya ? dan mencari pelampiasannya padaku dan mungkin pada wanita lain. Tapi sejauh apapun dia berusaha berpaling , dia akan kembali lagi pada wanita itu. Aku dan mungkin wanita lain yang dijadikannya sebagai pelarian akan menjadi sangat tersiksa, terombang ambing diantara perasaannya sendiri, rasa bersalah dan kekecewaan diwaktu yang bersamaan.
Jelas tunangannya sangat cantik, dan mungkin itu salah satu alasan dirga tak bisa melepaskannya. Dan kaya, tentu saya itu menjadi alasan lain bagi dirga , karna akan sangat mudah baginya diterima dikeluarga besar Dirga. Dan rentetan nilai plus lainnya yang semakin membuat dirga tak mungkin dan tak dapat melepaskannya hanya karna wanita sepertiku.

“ selamanya akan dia dan selalu dia” ucap dirga waktu itu, dan aku mengerti sekarang mengapa selalu wanita itu yang menjadi pilihan. Bahkan tak pernah ada namaku sekalipun.

Aku bergegas keluar dari kamar mandi, dian sudah tak berada dikamarku. Jadi aku keluar dengan membawa tasku dan setengah berlari menuju ke halte depan kos – kosan.

Aku sampai di kantor sekitar jam 10. Dijalan tadi aku sudah menghubungi pak warman dan mas eko kalau aku ada urusan keluarga hari ini dan izin masuk siang. Mungkin cutiku akan dipotong setengah hari dengan percuma, tapi lebih baik untukku melakukan banyak kegiatan daripada harus berdiam diri di kosan dan terus memikirkan hal yang malah membuatku semakin frustasi.

***
Hari ini entah kenapa tiba-tiba dosenku berhalangan hadir , biasanya aku kegirangan mendengar berita seperti ini. Entah kenapa aku sedih sekarang, lebih baik memusingkan pelajaran dari pada harus terjebak dengan fikiran yang terus menerus.

Aku menyandarkan diriku dihalte bus depan kampus, berfikir tempat mana  yang harus kudatangi setidaknya untuk mengembalikan moodku. Tiba – tiba terfikir rezza...

Aku memencet nomornya
“ hallo “ ucap rezza disebrang sana

“ dimana ?” tanyaku

“ di luar “ ucap rezza

“ gak ke counter ?” tanyaku

“ gak ada kamu !” ucap rezza merayu

“ lagi bete nih mas, bisa temenin gak. Tapi aku lagi butuh temen bukan boss” ucapku, rezza tertawa terbahak disana

“ kamu dimana ?” tanya rezza

“ dihalte pertama kali kamu ngeliat aku sebagai tunawisma” ucapku

“ kampus ?”

“ iya “

“ yaudah tunggu yah, aku gak jauh dari tempat kamu kok. See you”  ucap rezza menutup telfonnya

Aku menyumpal telinganku dengan hansfree dan memainkan beberapa musik, berharap bisa memulihkan moodku atau setidaknya membuatku sedikit bersemangat. Tak lama mobil rezza berhenti didepan halte bus, rupanya benar dia sedang berada tidak jauh dari sini.

“ gak ada matkul hari ini ?” tanya rezza

“ ada tapi dosennya gak masuk. Jadi kosong deh” ucapku

“ bukannya pulang istirahat. Emang gak capek kerja rodi setiap hari, ada waktu istirahat mendingan pulang” ucap rezza

“ ya maunya gitu, Cuma aku lagi banyak fikiran. Kalau pulangpun gak akan bisa tidur tapi kefikiran masalah ini terus”

“ masalah apa sih ?” tanya rezza “ sampe segitunya

“ apa ya, banyak banget masalah yang tiba – tiba kefikiran ini itu... aku juga bingung” ucapku

aku diam sepanjang perjalanan, aku juga tidak tau entah kemana mobilnya melaju, aku hanya bersandar di kaca mobil dan menatap jalanan kosong. Rezza pun sepertinya mengerti dengan kondisiku saat ini , jadi dia lebih banyak diam dan memberikanku ruang untuk sendiri. Kami berhenti di sebuah pantai di jakarta utara, aku baru sadar saat kami berhenti di parkiran dekat dermaga.

Rezza keluar dan membukakan pintu untukku, aku berjalan mengikutinya dari belakang sampai dia duduk ditembok pembatas yang membentang di sepanjang pantai.

“ tunggu disini ya aku mau beli minuman” ucap rezza,
aku hanya mengangguk dan mencoba duduk. Reza tau sepertinya  kalau aku butuh tempat yang nyaman dan tenang untuk membereskan fikiranku. Dan suara deburan ombak malam, sukses membuatku merasa lebih nyaman. Meskipun hawa disini cukup dingin.

Rezza kembali dengan dua cup kopi di tangannya, dan menyodorkan salah satunya kepadaku.

“ makasih “ ucapku sambil mengambil kopi dari tangannya, kopi ditanganku sedikit menghangatkan

“ jadi, kalau kamu mau cerita aku bersedia mendengarkan” ucap rezza

“ apa ya, aku juga bingung” ucapku ragu

Kami terdiam cukup lama, mencoba mencari bahasan yang tepat mungin atau memang sedang menikmati suasana.
.
.
.
.

“ kamu punya kakak ?” tanya rezza

“ ya , aku punya satu. Cewek “ jawabku

“ pasti seneng rasanya punya kakak!” ucap rezza

“ gak juga, kakak itu super cerewet dan nyebelin” ucapku

“ tapi kamu sayang kan walaupun begitu ?” tanya rezza lagi

“ iyalah, walaupun cerewetnya tingkat dewa sekalipun, dia tetep kakaku dan aku pasti sayang. Kalau kamu ?” tanyaku

“ aku anak tunggal waktu mamah masih hidup, dan tetap menjadi anak tunggal sampai mamah meninggal” ucap rezza, aku mengelus bahunya sepertinya rezza sama sepertiku, merasakan kehilangan orang yang paling disayang

“ aku kelas 5 SD waktu papah menikah lagi, sejak menikah memang mamah tiri aku gak pernah sekalipun bersikap kasar. Dia ngerawat dan ngebesarin aku seperti anaknya sendiri dengan tulus. Dan saat Bayu lahir rasanya aku bahagia akhirnya aku punya saudara , punya temen main, punya temen bertukar cerita. “ ucap rezza

“ bayu itu dirga ?” tanyaku
“ iya, dulu dirga itu dipanggil bayu, karna namanya BAYU DIRGANTARA dan aku REZZA ARYA DIRGANTARA. Sejak lulus kuliah entah kenapa mamah tiriku mulai terobsesi menjadikan bayu sebagai penerus utama perusahaan papah. Jadi saat aku tau aku mengalah dan pergi keluar kota” ucap rezza

“ papah kamu ?” tanyaku

“ selalu mendukung keinginan mamah tiriku, terlebih dilihatnya aku kurang berminat bisnis keluarga dan lebih memilih menjalani hidup seperti ini, seseuai dengan keinginanku sendiri”

“ apa itu masalah buat kamu ?” tanyaku

“ enggak, aku masih bisa hidup sendiri . membangung bisnisku sendiri, cafe tempat kamu kerja, itu asli punyaku tanpa bantuan orang tua sedikitpun. “ ucap rezza

“ wah berarti kamu bohong ya dulu” ucapku memukul bahunya, rezza hanya menyeringai geli

“ aku Cuma mau, mamahku dan bayu menyayangiku seperti dulu, mengabaikan bahwa aku calon utama pewaris dan penerus perusahaan papah. Aku berusaha membuktikan itu ke mereka, bahwa aku tidak butuh semua itu, tapi mungkin mereka salah mengerti.” Ucap rezza “ kalau keluarga kamu gimana ?” tanya rezza

“ 1 tahun sejak papah meninggal mamah memutuskan untuk menikah lagi dengan papah tiriku yang sekarang. Keputusannya sulit diterima dengan akal sehatku. Mamah bukan lagi anak muda, anaknya pun sudah cukup besar, mamah juga memiliki beberapa perusahaan warisan dari papah, mamah seharusnya bisa hidup sendiri tanpa harus bergantung dengan lelaki lain yang belum tentu lebih baik dari papah. Beberapa bulan setelah mamah menikah aku memutuskan untuk keluar rumah karna memang udah gak sanggup ngeliat drama percintaan mereka setiap hari. Sedangkan kakak dia memilih tinggal dirumah untuk menjaga mamah. Tapi sepertinya kakakku memiliki pemikiran yang sama dengan mamah, dia ikut bahagia dengan keputusan mamah menikah lagi”

“ kakak kamu benar, kita hidup membutuhkan orang lain untuk berbagi suka, duka, bersandar. Meskipun mamah kamu cukup materi tapi hatinya kosong. Sedangkan anaknya belum tentu memiliki waktu yang cukup untuk dia” ucap rezza

Aku terdiam, ya... mungkin selama ini aku yang salah menilai. Padahal mamah bahagia dengan keputusannya dan papah tiriku tak pernah ku dengar menyakiti mamah.

“ kemarin aku ketemu dirga” ucapku “ dia sama cewek”

“ oh, mungkin itu nabilla” ucap rezza santai

“ kamu kenal ?” tanyaku

“ ya, mereka pacaran udah cukup lama dan udah sempet dikenalin ke keluarga. Dan kalau gak ada halangan, dua bulan lagi mereka tunangan” ucap rezza

“ oh baguslah, aku ikut seneng” ucapku

“ ya mereka pasangan serasi. Ayah nabila salah seorang investor besar diperusahaan papah. Jadi selain menjalin hubungan percintaaan mungkin juga ada hubungan bisnis didalamnya. Apapun itu mereka berdua menjalani hubungan tanpa paksaan jadi ya.... beruntunglah keduanya” ucap rezza

“ ya, mereka beruntung” ucapku lagi

“ kenapa sih ?” tanya rezza heran dengan ekspresiku

“ sebenarnya pacarnya dirga, dan baru semalam putus waktu tau ternyata dirga udah punya cewek lain bahkan itu tunangannya”

“ apa ????????” teriak rezza tidak percaya

“ tapi gimana bisa, maksud aku dirga hampir setiap hari antar jemput nabilla gimana bisa dia ngebagi waktunya buat kamu” ucap rezza

“ ya, dirga memang gak pernah ngebagi waktunya buat aku kok” ucap ku “ aku juga gak tau kalau dirga udah punya pacar atau akan tunangan dalam waktu dekat. Satu sisi aku marah saat aku tau kalau bukan Cuma aku orang yang ada di hidupnya tapi setelah aku tau kalau aku jadi benalu dalam hubungan mereka, aku juga malu dan merasa bersalah.” Ucapku, mataku berkaca –kaca air mataku hampir tumpah tapi ku tahan.

Rezza diam, mungkin dia juga bingung apa yang harus dikatakannya. Dan aku juga tidak ingin mendengar sebuah pembelaan atas kondisiku saat ini. Setidaknya dengan bercerita kepada seseorang aku berharap beban ini terasa lebih ringan.

“ aku tau, kamu bukan tipe cewek perusak hubungan orang. Dirga memang terkadang kelewatan dan memang terkenal playboy sejak SMA dulu. Tapi seharusnya saat dia beranjak ke jenjang yang lebih serius dia bisa mengontrol diri. Nanti biar ku tegur” ucap rezza

“ jangan” ucapku buru –buru memotong kata-katanya “ biarin aja, aku gak mau dirga tau kalau aku kenal kamu” ucapku

“ mau nangis disini “ tanya rezza sambil menunjuk bahunya yang lebar

“ enggak makasih” ucapku

“ eh, jangan salah ini bisa bergerak loooh” ucap rezza kemudian menggoyangkan otot dadanya yang terlihat naik turun

Aku menggelengkan kepalaku, “ gak mau itu” ucapku

“ trus apa ?” tanya rezza

“ ini aja” ucapku sambil menunjuk perutnya yang gempal

“ ini ?” tanya rezza lagi

“ iya, buat samsak boleh gak. Aku pukulin sampe puas” ucapku

“ NO ! soalnya aku belum asuransiin perut buncit aku yang seksi ini. Kalau terjadi apa-apa gimana ?” ucap rezza  dengan raut wajah memelas

Kami berdua tertawa terbahak. Senang rasanya rezza bisa berada disampingku saat ini. Setidaknya aku bisa tertawa lepas dan merasa nyaman, walaupun kesedihanku tetap bersemayam disana.


***

 BERSAMBUNG


Sunday, March 12, 2017

Sebuah Nama Tanpa Cerita - Bagian Tiga Belas

Sebuah Nama Tanpa Cerita

# PENYESALAN

Aku sudah siap sebelum jam 9. Tapi sekarang aku masih harus tetap menunggu dan terancam terlambat karna sahabatku yang satu ini. Aku menunggu di ruang tamu depan, beberapa kali aku sudah menelfonnya tetap saja dian tidak keluar, menyebalkan. Jadi kuputuskan untuk meninggalkannya, meskipun mungkin kesempatanku bertemu lagi dengannya entah kapan. Kami memang tinggal bersebelahan tapi sulit sekali rasanya memiliki waktu untuk sekedar bertemu. Aku duduk di halte depan kos – kosanku, hulft. Aku lupa kalau semalam kartu buswayku ku pinjamkan pada rezza, jadi hari ini aku harus pergi dengan angkot.

Aku duduk di kursi halte yang sudah mulai memudar warnanya, beberapa kali terdengar suara klakson mobil ku fikir memang karna berada di depan jalanan wajar ada suara klakson. Tapi tiba – tiba seseorang meneriaki namaku dengan keras.

“ NANDITA “ teriak seseorang, aku mencari sumber suara, dan ternyata itu rezza dari dalam sebuah mobil sport yang membuat hati ini meleleh melihatnya

“ ya ..” teriakku menghampirinya

“ naik “ ucap rezza

“ mau kemana ?” tanyaku

“ kamu mau ke counter atau kemana dulu ?” ucap rezza balik bertanya

“ iya mas ke counter” ucapku , kemudian naik

“ kamu udah cek ke dokter belum ?” ucap reza tiba-tiba

“ lah emang saya kenapa ?” ucapku heran

“ KUPING KAMU ITU LOOOHHH BUDEGNYA GAK KIRA – KIRA, DIKLAKSONIN DARI TADI GAK DENGER” ucap reza dengan nada kesal

“ ya maaf, klakson sih denger tapi emang tau itu klakson buat aku kan klaksonnya gak menggemakan nama aku” ucapku sambil menyeringai pada rezza

“ Yeh, besok aku pasang klakson kaya di bus antar kota gitu ya. Kalau mereka bunyinya TELOLET. Aku nanti bunyinya NANDITA “ ucap rezza

Aku terpingkal menepuk bahunya yang besar dan bidang. Rezza selalu membuatku merasa nyaman, dia seperti abangku kalau saja dia perempuan mungkin sudah ku peluk tubuh gempalnya yang menggemaskan itu.

“ oh iya,, aku mau tanya satu hal, tapi jangan marah ya?” ucapku pada rezza

“ aku tau “ ucap rezza

“ kamu mau nanya kemaren kenapa aku naik busway padahal punya mobil” ucap reza menyeringai dengan percaya diri

“ iiihhhh... bukan pede banget sih. Itu sih urusan kamu mas mau naek apa selama gak merugikan aku kaya semalem” ucapku
Bip..bippp..bippp
Handphoneku berdering, itu pasti dian.

“ ya hallo yan “ ucapku

“ dimana ?” tanya dian disebrang sana

“ dijalan, udah berangkat abis nungguin lo kelamaan” ucapku akhirnya

“ dih, gue susah banget mau ngobrol sama lo sih. Ada hal penting nih” ucap dian

“ yaudah nanti aja pulang kerja” ucapku “ bye..”

Aku menutup telfonnya,


“ Siapa “ tanya reza

“ oh itu temen kos –kosan aku.” Ucapku

“ trus mau nanya apa ?”tanya nya lagi, sekarang dia menatapku didepan jalanan sedang lampu merah dan dia berhenti dan menatapku

“ apa kamu bener sepupunya Dirga ?” tanyaku

Rezza terdiam sesaat, kemudian mengemudikan mobilnya kembali saat lampu berubah hijau. Lama sampai akhirnya dia menjawab.

“ aku bukan sepupunya Dirga” ucap reza akhirnya

“ oh aku tau, aku Cuma memastikan. Soalnya dari keterangan dirga, ciri- ciri sepupunya jauh beda sama kamu mas. Cuma aku heran aja kenapa kamu ngaku – ngaku jadi sepupunya dirga” ucapku hati – hati

“ aku bukan sepupunya, aku kakak tirinya dirga. Waktu nyokap meninggal, bokap nikah lagi sama nyokapnya dirga” ucap reza terdiam

“ oh, maaf aku gak maksud buat ikut campur soal masalah keluarga kalian” ucapku “ Cuma aja, penasaran kenapa kamu bohong soal itu”

“ iya gak apa-apa. Aku gak enak aja bilang ke kamu kalau aku ini kakak tirinya. Selama ini dirga dan nyokapnya memang kurang suka ngomong soal aku ke orang lain. Jadi aku takut aja ngerusak citra keluarganya, makanya aku bilang sepupunya” ucap reza

“ dan buku yang tempo hari itu ?” tanyaku

“ iya, itu emang punya sepupu dirga, namanya farhan dia baru lulus SMA. Farhan itu anak dari adik papah aku, jadi aku udah deket sama dia dari kecil udah kaya adik sendiri, dia yang minta tolong ke aku buat nuker buku ke kamu” ucap reza

“ oh, maaf ya aku udah salah sangka. Tapi aku bersyukur kamu cerita semuanya, aku jadi lega” ucapku

“ maaf ya aku gak cerita dari awal, aku fikir kamu tau alasannya kenapa” ucap reza

Aku terdiam, apa maksudnya “ kamu tau alasannya kenapa”. tak lama kami sampai didepan counter. Rezza memaksaku turun tepat didepan cafe padahal aku sudah memintanya menurunkanku di halte depan. Aku takut ada pegawai lain yang melihat akan menimbulkan persepsi aneh antara aku dan rezza nanti.

Hulft .....

Aku bergegas berganti pakaian, untung saja tidak ada orang yang melihat kami turun bersama dari mobil.

“ hayoooo....” ucap mba vina mengagetkanku, jangan – jangan dia tau kalau aku berangkat bersama rezza

“ ya mba....” ucapku sedikit gugup

“ telat ya” ucap mba vina, aku bernafas lega kufikir dia tau soal itu

“ enak aja, enggak absenku masih hitam belum merah “ ledekku, aku kembali merapihkan bajuku

“ dit, minta tolong dong. Boleh gak ?” tanya mba vina

“ apa ?”

“ fotocopiin ini di blok sebelah, aku lagi bikin laporan pemasukan bulanan. Boleh gak ? mumpung belum rameh ini customer” kata mba vina

“ iya, fotocopiin apaan sih ?” tanyaku

“ laporan bulanan” ucap mba vina

“ gak apa-apa aku liat beginian ? “ tanyaku sedikit ragu

“ gak apa-apa nanti juga dibahas pas rapat bulanan jadi semua tau. Tolong ya” ucap mba vina

“ oke, nanti bilangin upi aja ya mba. Takut dia nyariin” ucapku

Aku berjalan menuju tempat fotocopy. Katanya tidak jauh dari cafe hanya beberapa meter kemudian ada blok perkantoran dan masuk kedalamnya. Hulft.... setelah berjalan beberapa meter akhirnya barulah terlihat ruko perkantoran yang dituju.
“ mas tempat fotocopy sebelah mana ya?” tanyaku pada satpam yang duduk di gerbang utama

“ mba masuk aja keruko ini, lurus terus belok kiri” ucapnya

“ oke makasih ya” ucapku

Tempat fotocopy yang dibicarakan tadi memang tidak terlalu jauh, tapi terlalu penuh. Aku harus mengantri beberapa orang lagi yang datang terlebih dahulu. Aku melirik jam ditanganku sudah hampir jam setengah 11. Hulft...

Iseng kubuka laporan keuangan mba vina, katanya tak masalah aku melihatnya. Laporan keuangan bulanan di cafe kami ternyata cukup bagus, pantas saja cafe yang tidak teralu besar seperti itu bisa mempekerjaan banyak karyawan termasuk seorang parttimer sepertiku. Fikirku dalam hati.

Dibagian paling bawah sebelah kanan, ada nama rezza sebagai orang yang mengetahui.

“ REZZA ARYADUTA DIRGANTARA”

Jadi rezza juga memiliki nama yang sama dengan Dirga, mungkin itu nama keluarganya. Tapi kenapa dirga menggunakan nama keluarganya sebagai nama panggilan ?. syukurnya rezza sudah menceritakanya terlebih dahulu sebelum aku mengetahui semua ini langsung, mungkin aku akan semakin bingung nanti.

Pertanyaanku sekarang, kenapa dirga menyebutku teman ?. mungkin harus ku tanyakan langsung padanya nanti saat kita bertemu. Cukup adil untuk bertanya kepada mereka berdua dengan pertanyaan yang sesuai.

***
Hari ini aku ditemani mba vina menunggu busway di malam senin yang kelabu. Masih tanpa jemputan seorang pacar karna entah dia menghilang kemana. Kami cukup lama menunggu bus datang, jadi cukup memiliki waktu untuk berbicara tentang banyak hal. Yang baru ku tau adalah mba vina sudah menikah dan memiliki anak, padahal mungkin usianya hanya terpaut dua taun denganku, kesenioritasan yang membuatku menuakannya dan memanggilnya dengan sebutan “mba”. Tapi sekarang setelah aku tau dia sudah bersuami dan memiliki anak, rasanya lebih pantas aku menghormatinya bukan hanya sebagai seniorku tapi yang lebih tua dari ku dari segi umur dan pengalaman.

Menikah muda sepertinya menyenangkan, bahkan akupun memimpikannya. Memimpikan bisa segera menikah dengan dirga, aku teringat jelas hari itu saat dimana kita berdua menghabiskan waktu sampai melihat matahari tenggelam. Rasanya ingin melewati setiap hari, setiap jam, setiap menitnya bersama dirga. Dan terus berada disamping orang yang aku cintai. Rasanya bahagia mungkin.
Tapi mba vina bilang, kisah cinta tak selamanya indah bahkan setelah menikah. Aku jadi sedikit ragu, tapi aku yakin bahwa setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing – masing. Dan aku yakin rasa cintaku yang tulus pada dirga, bisa membuat kami bahagia. Aku yakin itu...

Mungkin saat ini kami masih belum berada dijalan yang seharusnya, dia masih fokus dengan pekerjaannya begitupun dengan aku sibuk dengan pekerjaan dan kuliahku. Tapi aku berharap suatu hari nanti, kita bisa menjalani semuanya bersama.

“ aku duluan ya dit” ucap mba vina, melambaikan tangannya dan berjalan masuk kedalam bus. Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum

Bus ku mungkin sebentar lagi akan datang. Aku mengambil handphoneku dan mencari kontak dirga,

Tut.....
.
.
.
Tuuttt.
.
.
.
Tut....
.
.

Handphonenya sudah bisa dihubungi tapi dia tidak mengangkatnya. Aku mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi malah dirga menolak panggilanku bahkan mematikan handphonenya.

“ apa dirga marah padaku ya?” tanyaku dalam hati “ atau jangan – jangan dia tau kalau selama ini aku bekerja di tempat reza dan tidak bercerita padanya, apa dia marah karna itu?”

Aku takut, mungkin benar. Mungkin dirga marah padaku, seharusnya aku mengatakannya lebih awal, seharusnya aku jujur. Seharusnya hubungan itu saling terbuka satu sama lain, seharusnya aku memberitahukan alasanku padanya. Fikiran itu terus saja bergulir dikepalaku, aku terus saja menyalahkan diriku sendiri.

Suara speaker bis mengangetkanku, di halte depan aku harus transit satu kali menuju ke utara. Saat pintu bis terbuka aku segera melangkah keluar dan berjalan keluar menuju koridor disebrang jalan yang berlawanan. Tapi saat aku akan masuk ke koridor , aku melihat dirga keluar dari mobilnya dengan seorang wanita tepat di depanku, dicafe depan halte busway ini. Kalau saja mereka berdua tidak berpegangan tangan, mungkin dengan mudahnya aku bisa berfikir kalau dia adalah teman, client, atau mungkin saudara.

Mataku berkaca – kaca, aku memutar arah dan turun dari koridor  menuju cafe tempat dirga masuk tadi. aku memegang tasku erat – erat mencoba menguatkan diriku sendiri. Aku masuk dan melihat sekeliling, mencoba mencari dimana mereka duduk. Dan aku menemukannya, aku menemukan dirga duduk bersama seorang wanita di kursi paling ujung. Jadi aku mendekatinya dan duduk tak jauh dari tempat mereka, untungnya Dirga tidak melihatku.

“ pesen apa mba ?” tanya seorang pelayan

“ coffe capucino satu mas” ucapku, kemudian pelayan itu pergi

Aku terus saja memperhatikannya, memperhatikan dirga, memperhatikan bagaimana dirga tersenyum lembut kepada wanita itu, memperhatikan bagaimana dirga mengelus punggung tangannya dan meremas tangan wanita itu bahkan dia mengecup tangannya. Hatiku ngilu, sakit , rasanya aku ingin menangis dan menjerit dengan keras, tapi semuanya tertahan di kerongkonganku. Menyekikku sampai aku nyaris mati.

Tak lama seorang pelayan datang dengan secangkir kopi dengan foam berbentuk hati yang bergurat ditengahnya. Ramalan yang terlambat.

“ makasih “ ucapku dengan suara parau, kemudian pelayan itu beranjak pergi. Aku menyeruput kopi nya bahkan nyaris habis, meskipun panasnya sampai ketenggorokan dan lambungku. Entah karna kopi atau dirga, atau keduanya. Anehnya aku masih duduk disini meskipun membuatku ingin mati, harusnya aku pergi kan ? atau haruskah aku menanyakannya  pertanyaan itulangsung pada dirga sekarang.

“ kenapa dia mengatakan pada sepupunya kalau aku temannya?” ucapku dalam hati , meskipun aku tau jawabnnya sekarang. Aku bangun dan menghampiri dirga.
Benar seharusnya kutanyakan padanya langsung, dengan pertanyaan yang tepat, orang yang tepat dan disituasi yang tepat. Tapi saat aku hampir mendekati mejanya, wanita itu bangun dan beranjak pergi. Mataku tak lepas menatap wanita itu, sedangkan kakiku masih berjalan menghampiri meja dirga.

“ itu pacar kamu ?” tanyaku pada dirga, setelah aku tepat berdiri dihadapannya

Dirga kaget, matanya terbelalak lebar “ kamu kok ada disini ?” ucapnya terbata

“ iya, aku gak sengaja liat kamu tadi. jadi aku Cuma mau memastikan. Apa dia pacar kamu ?” tanyaku lagi

Dirga diam tak menjawab, mencari kata raut wajahnya bingung. Mungkin sedang mencari alasan atau entah apa

“ iya “ jawab dirga akhirnya, aku nyaris menangis, tenggorokanku berat. Aku memegang tasku erat

“ jadi kamu pilih siapa, dia atau aku “ ucapku, pertanyaan terbodoh yang ku ajukan setelah semua penghianatan ini

“ maaf, selamanya akan dia dan selalu dia. Awalnya aku gak serius menjalani hubungan sama kamu. Aku gak nyaman tapi aku bingung gimana cara mutusin kamu yang keliatan sayang banget sama aku. Aku berusaha memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama sama kamu dan dia, tapi hati aku tetep gak bisa mencintai kamu. Rasanya gak adil mutusin kamu padahal kamu belum aku berikan perlakuan dan kesempatan yang sama” ucap dirga

Aku terdiam, dari semua penjelasannya tidak ada satukatapun yang membuatku merasa lega setelah menanyakan pertanyaan ini padanya.

“ siapa sayang ?” ucap wanita tadi pada dirga yang masih didepanku

“ ini pelayanan disini salah faham sama aku” ucap dirga

“ yaudah yuk pergi aja ih, ngapain ribut – ribut sama orang beginian” ucap wanita itu menarik dirga bangun kemudian melambaikan tangannya pada seorang pelayan

“ tolong yah, kalau punya pelayan yang bener. Bikin gak nyaman aja” ucap wanita tadi pada pelayan yang datang

“ mba memang pelayan sini ?” ucap pelayan yang tadi memberikanku kopi

“ bukan saya mau bayar kopi saya, bisa ambilin billnya ?” ucapku kemudian, aku kembali ketempat dudukku. Menunggu bill minumanku datang. Aku baru sadar kalau aku belum berganti pakaian sejak keluar dari counter. Memang bisanya sering seperti ini, memakai seragam kerjaku yang hanya sebagai pelayan untuk pulang kerumah dan aku hanya merangkapnya dengan jaket  dan masih terlihat jelas seragam ini, seragam seorang pelayan. Memang biasanya aku tidak masalah memakai ini, tapi hari ini aku menyesal kenapa aku harus memakainya?.


***

 BERSAMBUNG